Pages

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2013

Liqo on The Road season 2 : “Rihlah to Kawah Ratu”

well... amigo, ini cerita lama... tapi sekarang adalah saat yg tepat untuk menceritrakannya kembali... sebuah kenangan, wahahaha

H-1, Kamis 28 Maret 2013

sebenarnya, acara rihlah ini sudah direncanakan oleh murabbi kami, mas Tatang sejak 2 minggu yang lalu. Pembagian kelompok juga sudah dilakukan, akan tetapi, khususnya kelompok kami baru mencari semua perlengkapan di hari ini... kalang kabut sebenarnya, bahkan ada kondisi dimana saya pribadi sempat berpikir untuk tidak ikut (padahal semuanya sudah siap, tinggal tenda doang). Tetapi dengan kegigihan dan kekerasan kepala Mas'ul, Adlian, akhirnya saya bertetap untuk ikut...

H Day, Jum'at 29 maret 2013

Turu at the truck... hehe
hari ini, janjinya kami semua subuh berjamaah di masjid Al-Hidayah, dekat kosan mas Puji (Danyon periode 2011-2012), jadi saya bangun dan dibangunkan serta membangunkan pada pukul 03:00. kemudian bersiap dan berpamitan kepada teman-teman dekat, wahahaa. Singkat cerita, sesampainya di Al-Hidayah, saya hanya bertemu mas Tatang, bg Dedi, dan mas Iwan pada saat Shubuh berjamaah. Kami menunggu kira-kira 1.5 jam sampai pukul 05:30, barulah para peserta datang. Awalnya saya kaget, yang datang pertama pas itu adalah rombongan mas Fadlan, mas Vian, mas Relly, ka Rizki, kemudian disusul oleh bg Maul, bg Shirat, mas Ari, Shio, Septo, dan bg Toat. Awalnya saya kira hanya liqo kami yang diajak, tapi rupanya liqo-an senior dan liqo-an bg Dedi juga... sekitar 05:45, barulah Mas'ul (Adlian) beserta rombongan + mas Purr datang.

Setelah lengkap, kami bergerak menuju starting point tempat tronton menunggu, jl Camar. Sekitar jam 06:00 kami berangkat. Posisi duduk kami di tronton kira-kira seperti berikut ini (dihitung dari depan ke belakang): Ijal, Ikki, Oji, Trian, mas Ari, bg Shirat, mas Teguh, mas Relly, bg Maul, dan ka Rizky di paling ujung. Kemudian di seberangnya ada Adlian, saya, Wahyu, Shanas, bg Toat, Shio, mas Purr, mas Fadlan, mas Vian, mas Tatang, dan paling ujung luar Septo. Sedangkan bg Dedi dan mas Iwan didepan.

udah dekat cuiii
Perjalanan kami tidak begitu jauh, 3-4 jam perjalanan. Perjalanan kami melewati lokasi Prasasti Ciauterun, kemudian ada juga masjid yang cukup menarik perhatian ku, masjid Al-Ikhlas, yang notabene ukuran mushola kampus sedikit lebih besar. Kemudian ada juga penampakan bekas fault, atau bisa dibilang bekas normal fault. Di jalanan memasuki bogor juga banyak terdapat peminta sumbangan untuk masjid diwilayah situ.

Entah kenapa, tapi sepertinya kendaraan kami sedikit memonopoli jalanan, entah karena ukurannya atau karena “brimob”nya. Pokoknya tronton kami mendapatkan prioritas lebih. Di sekitaran wilayah desa Cibineng (kalau tidak salah), terlihat kandang kuda yang cukup luas dengan 3 ekor kuda didalamnya berwarna hitam, coklat, dan putih.


Prosesi pembangunan tenda


Kami sampai diareal gunung karimun salak sekitaran jam 09:00, dimana awalnya tidak ada sinyal untuk telkomsel, tapi lama-kelamaan sinyalnya muncul kembali (Alhamdulillah, hehehe).

Lanjut, kami berhenti di area Blok B-I, kemudian apel, yang dibuka oleh mas Tatang, dan ada tilawah merangkap hafalan dari mas Relly. Selanjutnya kami istirahat sembari sarapan (1 nasi uduk untuk berdua) dan membangun tenda, sekitaran jam 10:15.

total ada 5 tenda, yang awalnya letaknya tidak beraturan, dan kemudian kami semuanya disuruh untuk merapikan letak tenda dan menyamakan arah pintu menghadap ke kiblat.


Selanjutnya kelompok kami (dalam hal ini Mas'ul, saya, Shanas, dan Ikki) masak, kami masak nasi, indomie soto pake bumbu indomie goreng (a little bit freak), dan sarden punya ikki (ini jadi inspirasi yel-yel kami). Yah percobaan masak nasi pertama kami adalah... nasi bakar (yah, jangan sebut gosong lah), tapi tak apa, yang penting perut terisi.

Mas'ul
Setelah zuhur dijamak ashar, kami semua para peserta (mas Tatang, bg Dedi, mas Relly, dan mas Iwan panitia) berkumpul dan main game dengan kondisi mata tertutup kecuali Mas'ul. Yah, karena mataku ditutup, jadi saya cuman ceritakan apa yang saya rasakan saja. Kelompok kami yang terakhir memasuki arena permainan. Awalnya ada koprol depan 2 kali (ntah lurus entah nggak, yg penting ke depan), setalah itu merayap, dan ada basah-basahnya, lumpur, yang terakhir jalan jongkok pada lintasan menanjak. Setelah itu, game baru benar-benar dimulai. Totalnya ada 4 game ditambah game tentang konsentrasi angka (Alhamdulillah sampai 3 besar dari seluruh peserta dikurangi 1 tim yang terlambat menyelesaikan game).

Seusai game, kami berjalan naik, sekaligus gladi untuk perjalanan besok. Kami berjalan (dan saat itu tim kami dan beberapa orang memilih nyeker) sampai di air terjun (ga ada dokementasinya). Sesampainya di air terjun, Mas'ul dan Shanas adalah orang pertama yang terjun ke air. Dan kejadian berikutnya adalah, kami semua beradu siapa yang paling tahan di bawah guyuran air terjun. Percaya atau tidak, yang paling tidak tahan adalah mas Teguh (jika kalian liat ekspresinya, itu sesuatu sekali, hehehe).

sekembalinya dari air terjun, kami melihat didekat camp kami, ada juga camp penggodokan pramuka, PPAC kalau tidak salah, tapi itu tidak ada hubungannya dengan agenda kita. Kami istirahat setibanya dicamp. Sekitaran jam 16:00 liqo kami dikumpulin di tenda tim kami, jadi kami ber-10 ada dalam satu tenda (dalam hal ini Adlian, Shanas, Ijal, Ikki, mas Teguh, aa Oji, Way, Trian, saya, dan mas Tatang... could u imagine dat how big our tent is???)

malam, sekitaran pukul 19:30, kami semua melakukan haflah, atau persembahan. Dimana penampilan setiap kelompik mengundang tawa, mulai dari kekocakan mas Ari, ketidak hafalan Septo, bahasa tegal Oji dkk (wah), sampai diamnya Shanas karena diliatin penonton. Yang penting menghibur.

Setelah itu, acara disambung dengan sebuah “Testimoni Tarbiyah”dari mas Relly (murabbi geofisika). Sebuah cerita tentang perjalanan beliau dalam tarbiyah. Acara malam ini selesai pukul 21:00, dan saya dapat jadwal jaga malam pertama sampai pukul 22:30 bersama Shio dan mas Teguh.

H+1, Sabtu 30 Maret 2013

hari ini, kami semua dibangunkan sekitaran jam 02:00, kemudian dikumpulkan. Dan kami digembleng & diajarkan tentang kerja sama, persaudaraan, dan ukhuwah yang kuat untuk dakwah yang berhasil (yah silakan bayangin di gembleng tu seperti apa). Selesai semua itu, dilajut qiyamul lail dan shubuh berjamaah.

Pukul 06:00 – 08:00, kami beristirahat sekaligus packing untuk naik. Dan juga masak, well masakan kali ini adalah kemajuan, karena nasinya berhasil matang sempurna (dari 3 kali masak nasi, yg pertama gosong, yg kedua agak keras, yg ini suksesss). Pukul 08:30, kami naik... tidak begitu banyak hal menarik saat naik pertama, sampai kimi akhirnya istirahat di rest area menuju kawah ratu. Di rest area, kami melakukan nasyid, entah hafal ntah nggak, yang penting menghibur ditengan pelu-peluh lelah.

Disekitar rest area, juga nampak organisasi KAMI yang juga sedang melakukan outbound tarbiyah... “Masa depan di tangan ISLAM”, itulah sepenggal lirik dari nasyid yang baru saja kami hafalin (atau sebagian dari kami), yang akhirnya aa Oji mengulang-ulanginya.

we're at puncak now... kawah queen
Kami naik lagi sekitar pukul 09:13, arena yang kami lalui mulai menjadi lebih licin namun hal itu tidak menyurutkan semangat peserta. Kami rest 2 kali, sekaligus mencicipi segarnya air sungai yang adem (ngalahin pocari sweat, jujur). Pukul 11:00, bau belerang mulai tercium, 26 menit kemudian kami naik (melewati helipad) kami sampai di kawah a.k.a puncak kawah ratu.


Dipuncak, kami semua melepas penat sambil memakan roti pembagian pagi tadi. Aroma sulfur tercium sangat jelas dan ada pemandangan asap yang keluar kawah dan uniknya, ada beberapa kominutas tumbuhan yang hidup sedangkan lainnya disekitarnya mati. Semua batu-batuan berwarna coklat-merah-putih & air sungainya puyih seperti susu hangat (karena suhunya juga agak panas).

Survival ?
11:50 kami turun, yah trek turun rupanya tidak semudah trek naik, walaupun trek naik sedikit lebih ekstrim, tetapi trek turun lebih licin (sampai gelincir coi). Selama perjalanan turun, kami bertemu banyak pekemah, termasuk juga bule yang katanya asal Pakistan. Dan saat turun juga, kami terpisah dengan mas Teguh, mas Purr, mas Fadlan, dan Septo yang berjalan jauh didepan dan meninggalkan kami. Dan kami juga yang ketinggalan nyaris kesasar (udah kesasar sekitar 25 meter si).



Skip to the last

kita, atau saya lebih tepatnya, sampai di bawah (tujuan) pukul 14:06. sungai di tempat itu terlihat sangat indah, sekalipun agak keruh. Kami semua bersih-bersih bekas lumpur disitu. Yah, satu yang belum saya beri tahu adalah, hal palin unik saat pendakian, sebagian dari kami menggunakan sendal SWALLOW... termasuk saya karena awalnya pakai sepatu, namun setelah tiba di bawah saya ganti sandal. Terbukti “ SWALLOW Menaklukkan SEGALA MEDAN!” hahahha

dari sana, kami lanjut jalan lagi menuju tempat tronton menunggu. Saat itu, saya, aa Oji, Way, Shio, Shanas, Ijal, mas Teguh, bg Shirat, mas Ari, & mas Rizky sedikit ketinggalan karena kami sempat beristirahat sambil menikmati sedikit snack yang kami bawa. Kami berjalan dan rupanya, Adlian a.k.a Mas'ul, mas Fadlan, dan mas Tatang sudah menunggu sekitar 6 menit. Mereka menunggu karena takut kami salah masuk tronton (saat itu ada beberapa tronton milik akhwat entah dari mana). Karena hujan, kami berteduh di warung terdekat sambil makan gorengan, dan tidak disangka-sangka, tronton kami malah naik dan menjemput kami. Sekitar jam 3, kami sholat zuhur jamak ashar di masjid Ar-Raihan.

Kami meninggalkan kompleks gunung pada pukul 16:00. apa yang saya dapat kali ini, jelas sudah pasti luka-luka, memar, lelah, letih, tapi tidak hanya itu. Ada juga pelajaran tentang Tarbiyah, syariat, Ukhuwah, dan tujuan dari semua itu, Khilafah...

jujur saat pulang, saya lebih banyak tidur di tronton karena lelah. Pokoknya kami sampai di ponbet pukul 20:30... yah itu kira-kira perjalanan singkat kami, bentar tapi berkesan. Paling tidak ada beberapa kata yang khas saat itu,






“Masa depan di tangan ISLAM”
“ SWALLOW Menaklukkan SEGALA MEDAN!”
“Karena Tiap Hari Makan SARDEN” (ini sepenggal yel-yel kelompok kami, hehe)



SALAM SATU JIWA, ALLAHU AKBAR
READ MORE - Liqo on The Road season 2 : “Rihlah to Kawah Ratu”

Kamis, 10 Januari 2013

Sedekah Mimpi



Well perkenalkan, aku Surya, aku memiliki 2 orang teman yg unik, yg sampai sekarang belum kutemukan lagi. Mereka adalah Ahmad dan Sahrul. Ahmad adl orang yg pendiam, tenang, dan memiliki kemampuan berpikir dan berlogika yang sedikit diluar nalar manusia biasa (hhehe), kalau Sahrul adl orang yg sentiment, terlalu peka dengan keadaan sekitarnya, punya kemampuan sosialisasi yg paling bagus diantara kita bertiga, yah dan aku sendiri addl orang yg paling nekat dan diantara kami bertiga, aku yg punya pengetahuan dalam bidang kelistrikan dan komputasi (IT).
Kami bertiga adl teman sejak kecil, mulai dari SD sampai SMA kami 1 sekolah, walaupun pas SMA kami beda jurusan, aku IPA 1, Ahmad IPA 2, dan Sahrul IPS. Dan kami bertiga juga merupakan salah satu dari sekian banyak tim peneliti SMA kami, walaupun hanya kami tim yg anggotanya lintas kelas dan jurusan.
Kami bertiga memiliki satu mimpi yang sama, yaitu berangkat ke Jepang untuk mempelajari perkembangan ilmu disana sebelum usia kami mencapai 30 tahun. Dan yah, kalau boleh jujur, itu bukan mimpi kosong! Kami mengusahakan semua yang kami bisa, mulai dari ikut event-event olimpiade, sampai dengan event karaya penelitian ilmiah. Banyak kegagalan yang kami terima, sampai suatu hari, mimpi itu akhirnya bisa terwujud. Kami memenangkan suatu event karya ilmiah nasional dengan hadiah Rp 25 juta. Tentu saja waktu itu, dana segitu itu sudah cukup untu kami bertiga pulang pergi ke Jepang selama 4 hari. Saat itu usia kami bertiga 15 tahun (kami orang paling muda disekolah).
Setelah dana hadiah itu cair, yang kebetulan bertepatan dengan liburan semester, kami pun berencana membeli tiket maskapai penerbangan *****. Diperjalanan (kebetulan kami jalan kaki, toh tidak begitu jauh tempatnya), Sahrul melihat suatu pemandangan yang mencengangkan. 3 orang berbadan besar (sedikit lebih besar dari aku, yg notabene anak paling besar diantara kami bertiga) dan 1 orang ibu-ibu berkerudung beserta banyak anak-anak didekatnya. Kami pun melihat lebih dekat dan mengetahui bahwa mereka sedang berada di depan Yayasan Yatim-Piatu *****. Samar-samar kami bisa mendengar percakapan diantara mereka.
“ayo bayar hutang kalian, majikan kami sudah tidak sabar!” kata orang pertama, yg berkumis dan berkepala botak dengan nada sedikit mengandung kemarahan.
“sabar pak…” kata ibu itu memelas. “kami belum memiliki dana..” tambahnya lagi
“kalau ndak ada dana ya nda usah tinggal! Yayasan ini sudah menunggak 23 juta rupiah! Jika tidak dibayar segera angkat kaki dari sini!” kata orang kedua, badanya hitam dan berkacamata hitam.
Seperti biasa, Sahrul yg terlalu peka langsung muncul (dan mau tidak mau aku dan Ahmad juga ikut) dan berkata, “he… janganlah kau ngomong begitu dengan perempuan.”
Tanpa diduga, Sahrul justru didorong hingga terjatuh, sontak emosiku naik dan nyaris menerjang, tapi Ahmad dengan tenangnya menahanku.
“masalahnya apa? Pake ribut segala.” Kata Ahmad dengan nada santainya.
“kau ndak usah ikut-ikut anak kecil!” kata orang pertama.
Akhirnya, dengan ketenangan Ahmad, kami mendapatkan informasi yang jelas dari ibu tersebut. Bahwasanya bangunan yang mereka tempati sekarang ini belum lunas dan masih memiliki tunggakan. Dan Sahrul pun mengajak rundingan untuk membantu yayasan ini.
Alhasil, kami sepakati bahwa uang hadiah tadi, kami pakai saja untuk bantu yayasan ini, walaupun harus mengorbankan mimpi kami.
Singkat cerita, kami bertiga lulus SMA, dan seperti biasanya, Ahmad mendapat nilai tertinggi diantara kami bertiga, dan tertinggi ke 3 dari satu sekolah. Kami melanjutkan ke jenjang pendidikan kami masing-masing. Aku ke bidang Fisika Listrik, Ahmad ke bidang Kedokteran, dan Sahrul kebidang Ekonomi. Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya, saat usia kami sudah mencapai 20 tahun, kami bertiga bertemu di sebuah konvensi Nasional, dimana ada Event Penelitian juga. Yah, cukup unik, jika biasanya penelitian antar universitas, timnya dibentuk di universitas tersebut, tetapi ini lain. Tim peneliti dibentuk secara acak oleh panitia. Dan ajaibnya, kami bertiga kembali dipertemukan dalam satu tim. Sambil nostalgia kami meneliti. Dan sekitar 2 bulan kemudian setelah lomba, kami diumumkan menjadi juara dengan hadiah belajar ke Jepang selama 2 minggu.
Hebat bukan, mimpi kami bertiga tercapai, dan benar, sebelum usia kami 30 tahun…
“yah… mungkin ini adalah amal dari bantuan kita keyayasan waktu itu.” Kata Sahrul angkat bicara
“waallahualam broh.” Kataku kemudian
“cukup nikmati aja, and tetap bersyukur… urusan itu, biar Tuhan yang urus.” Kata Ahmad dengan bijaknya, sembari menutup pembicaran kami malam itu, di balkon sebuah hotel bintang 5 di Tokyo.


Inti cerita ini adl jangan terlalu pusing dan takut bersedekah. Insyaallah pasti dibalas. Dan tak perlu pula kita mikirin seperti apa balasan Tuhan nanti, tak perlulah pula kita hitung-hitung dengan “matematika Tuhan”. Biarkan urusan “Matematika Tuhan” Tuhan yang urus, tak perlu kita apa-apakan. Siapa bilang 10-1=19?? Itu kan hasil manusia yg mencoba itjihad dengan pikirannya. Bagus memang untuk sebagian orang, dan bisa memotivasi untuk sedekah… tapi toh bagaimana pembalasan sedekah itu datangnya dari Tuhan, kita tidak tahu apa-apa mengenai hal itu…
Urusan Tuhan, biarkan Tuhan yang mengurusnya, kita cukup menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan kepada kita… ^_^v

Story Credit: S.Y.S.P
Ps: jangan pikirin orisinalitasnya, ambil apa yg bisa kalian ambil dari cerita itu amigo… hehe
READ MORE - Sedekah Mimpi

Selasa, 08 Januari 2013

Cerita Penjaga Warnet



ohaiyo... aku pengen crita sedikit amigoz (bukan curhat ya)...

Aku punya seorang teman, dia lulusan MTs di Kediri. Kondisi keluarganya tidak begitu bagus (perekonomian maksudnya), ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya hanya jaga warung yang juga merupakan warnet,  tapi dia bersikeras untuk melanjutkan sekolahnya ke SMA. Tapi bukan itu yang kita bahas.
Kesehariannya anak ini sangat” kalem… saking kalemnya kadang” kita teman-temannya agak sulit untuk mengajaknya berdiskusi. Akan tetapi kalian mungkin tidak percaya jika melihatnya langsung dirumahnya. Sehari-harinya, sepulang sekolah, yang mana sekolah kami kalo pulang ya paling lama jam 3 sore, dia membantu ibunya jaga warung dan warnet. Dan adapun yang sering bertandang ke warung dan warnet itu kebanyakan preman dan sejenisnya. Biasanya para pengunjung memesan makanan, entah indomie, atau apalah, kemudian nge-net atau main game online. Tidak jarang saat main game, sumpah-serapahnya beuh… itu semua kata” kebun binatang terlontar semua, dan tidak jarang pula ada yang buka situs porno dan sejenisnya. Yah, dan dia membiarkan hal itu… dengan alasan “yang penting mereka betah.” Dia pun gak nanggung” ikut bantu kalo misalkan ada masalah para client dengan koneksi internet atau masalah game, kebetulan dia punya ilmu IT yang melampaui kami anak” kota waktu itu (ga percayakan??!)
Saat menjaga warung dan warnet, dia suka memutar lagu” apapun yang menurutnya enak, entah genre blues, heavy metal, mellow, atau apapun itu. Tetapi menjelang waktu adzan, dia memutar winamp lagu-lagu salawatan atau tilawah Qur’an. Karena frekuensinya sudah sering, jadi para pengunjung sudah terbiasa. Lama-kelamaan, banyak perubahan yang terlampau signifikan yang terjadi. Yah bukan dalam hal pengunjungnya, karena pengunjungnya itu seperti udah langganan, tetapi dalam hal sikap mereka. 

Yap… saat main game, mereka mulai jarang memaki, yang sering terdengar sekarang adalah Astagfirullah, Masya Allah, Allahu Akbar, dan sejenisnya. Pengguna internet yang membuka situs porno pun mulai berkurang. Padahal dia tidak pernah mengajarkan, ataupun melarang ini itu diwarnetnya. Ternyata situasi dan keadaan bisa mengubah sikap dan perilaku orang-orang. Tidak perlu memaksa para pelanggan untuk melakukan hal ini hal itu… alias, disini efek classical Mozart terjadi, walaupun yg dipake bukan music Mozart, tetapi tilawah dan selawatan. Dan dalam hal ini bisa membuktikan bahwa MUSIK dapat mempengaruhi prilaku, menjadi kearah positif tentunya.
Waktu saya tanya “kok gak kau bikin larangan aja?” dia malah bilang “yo… didunia ini gak ada yang suka dilarang, apalagi oleh orang yg perilakunya sama aja…”
Yah perihal sholatpun juga begitu, dia ga pernah ngomong “wee waktunya sholat e, sudah stop dulu.” Tetapi dia langsung minggat ke mushola atau langsung gelar sejadah trus sholat. Yang pasti para pengunjung udah tau bahwasanya kalau dia udah mutar tilawah atau selawatan, berarti waktu sholat nyaris tiba, dan mereka secara tidak sadar (entah karena dikomandoi hati nurani atau bagaimana) langsung tenang.
“lha, nanti kalo ada yang buka situs porno bemana?” tanyaku padanya. Dan dia dengan entengnya jawab, “yah biarin ajah… yang penting mereka betah, kalo sa larang, ntar penghasilan ortuku berkurang dong.”  Kemudian dia sambung lagi, “mungkin mereka jadi nda baku enak, soalnya kita kan sering putar tilawah dan selawatn, jadinya mereka agak sungkan… yang penting bro, jangan sok ngelarang orang dah, bisa jadi to kita juga yang suka sama begituan…” 



well jangan mikirin orisinalitasnya, tapi ambil apa yang kalian dapat dari cerita itu ^_^

story credit to: S.Y.S.P

READ MORE - Cerita Penjaga Warnet

Senin, 31 Desember 2012

Mengubah Dengan Tangan



“Menggantungkan jawaban pada Tuhan adalah keharusan, tapi apakah hal ini mampu menjadi solusi, atau hanya berfungsi sebagai symbol ketidakberdayaan kita?”


Pagi itu, sekitar pukul 10.00 wib, di ruang ball room salah satu hotel berbintang di Jakarta Pusat. Ruangan itu ramai dipenuhi laki-laki dengan baju koko dan perempuan berkerudung. Ternyata orang-orang itu sedang menghadiri pengajian yang baru pertama kali diselenggarakan untuk mereka yg memiliki profesi sebagai pekerja dunia malam. Sebagian besar pesertanya adalah kaum hawa.
Jumlah peserta yang hadir saat itu kira-kira 500-600 orang, ada yang bekerja sebagai pemandu lagu di ditempat seperti ini? Ternyata kehadiran mereka tidak lepas dari upaya seorang pimpinan lembaga penegak hokum diwilayah sawah besar.
Sosok ini memang sedikit unik. Salah satu program pembinaan yg dilakukan dalam masyarakat adalah pembinaan dalam bentuk pengajian. Yah tentu saja tidak sulit bagi pimpinan untuk mengarahkan binaannya (dalam hal ini para pekerja tadi) untuk hadir dalam pengajian, karena jelas dia memiliki kekuasaan. Mungkin, inilah yang disebut dengan “mengubah dengan tangan atau kekuasaan”.
Nah, acara tersebut berisi hiburan bernuansa religious. Dengan suasana humor tapi serius namun juga santai, acara berjalan khidmat dan diakhiri dengan muhasabah yang dibawakan oleh salah satu uztas terkenal negeri ini. Sebagai rasa syukur atas kehadiran peserta dalam acara pengajian tersebut, penyelanggara menghadiahkan door prize berupa 4 buah tiket ibadah umroh ke tanah suci.
Alhamdulillah… sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pekerja dunia malam, yang notabene bekerja dengan dunia abu-abu yang lebih dekat kehitamnya daripada keputihnya, berkesempatan untuk umroh. Dalam dialog antara MC dengan salah seorang peserta yang mendapatkan hadiah ini terekam percakapan berikut:
“mbak… bagaimana perasaannya karena telah mendapatkan hadiah umroh?” yang ditanya pun hanya bisa diam. Dia tidak percaya kalau tiket umroh sudah berada ditangannya. Dia tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca dan tak kuasa menahan air mata. Ternyata Allah SWT memberikan kesempatan kepada seorang hamba yang setiap hari berbuat dosa untuk dating ke tanah suci. Apa pantas dia berangkat kesana? Sekali lagi MC bertanya:
“Maaf mbak… silakan mbak menyampaikan sesuatu.”
Kemudian dia meraih mic dari tangan MC. Dengan suara lirih, dia menyampaikan kalimat: “Alhamdulillah… terimakasih kepada pihak penyelenggara yang sudah memberikan saya kesempatan untuk pergi umroh. Terus terang, saya bukanlah orang yang layak untuk kesana. Masih ada orang yang lebih layak daripada saya. Izinkan saya memberikan hadiah umroh ini kepada kakak saya yang lebih pantas berangkat kesana…”
“lhoh kenapa begitu mbak? Apakah nggak sebaiknya mbak tukarkan hadiah ini dengan uang tunai?” si MC bertanya balik.
“nggak mas… Tuhan sudah memberikan kesempatan kepada kakak saya, yang sudah rindu sekali ingin pergi ke tanah suci. Inilah satu-satunya cara saya untuk bisa berbuat baik kepada kakak saya, dari uang yang 100% halal.”
Dari dialog tersebut,dapat dilihat bahwa dengan ketulusan hati, seseorang yang  “kotor” ternyata berani mengakui “kekotorannya” dan dengan ikhlas memberikan kesempatan kepada orang lain untuk dekat dengan Tuhannya. Sementara dirinya bergelimang dosa, dia masih memberikan kesempatan kapada saudaranya untuk menikmati kedekatan dengan saudaranya untuk menikmati kedekatan dengan Tuhannya.
Apakah setelah pengajian itu selesai, semua itu sirna begitu saja, tersingkirkan oleh rutinitas dunia mereka??? Ternyata 2 hari setelah acara tersebut, sekitar 200 orang datang menghadap ke pimpinan tersebut. Untuk apa? Bukan untuk berdemo, tetapi untuk meminta dicarikan pekerjaan baru diluar dunia malam mereka. Ternyata pengajian ini berbuah kesadaran… walaupun pada akhirnya hanya sebanyak 80 orang yg mendapatkan pekerjaan, selebihnya terpakasa kembali kepekerjaan mereka.

Ternyata… pekerjaan di dunia malam bukanlah satu-satunya tempat bekerja. Mereka ingin bekerja di tempat YANG LEBIH BAIK! Nah sekarang untuk kita yang sudah mapu, mampukah kita membuka alternative dunia kerja??? Atau kita lebih suka menghujat, mencerca, mencaci, atau mengobrak-abrik tempat kerja mereka TANPA MAMPU memberikan alternative pekerjaan yg lebih baik???
Atau malah kita hanya bersikan MASA BODO, dan membiarkan mereka menggantungkan harapan BAHWA TUHAN TIDAK AKAN PERNAH MENELANTARKAN HAMBANYA YG SERIUS MENCARI PEKERJAAN YANG HALAL, tanpa memikirkan pekerjaan halal seperti apa lagi yg bisa mereka kerjakan? Menggantungkan jawaban pada Tuhan adalah keharusan, tapi apakah hal ini mampu menjadi solusi, atau hanya berfungsi sebagai symbol ketidakberdayaan kita? Wallahu’alam

(Manajeman Dosa, Agus Idwar... oleh D'shaga Yoga, dengan pengubahan seperlunya)

READ MORE - Mengubah Dengan Tangan

Need a Translate?

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Popular Posts