Pages

Kamis, 10 Januari 2013

Sedekah Mimpi



Well perkenalkan, aku Surya, aku memiliki 2 orang teman yg unik, yg sampai sekarang belum kutemukan lagi. Mereka adalah Ahmad dan Sahrul. Ahmad adl orang yg pendiam, tenang, dan memiliki kemampuan berpikir dan berlogika yang sedikit diluar nalar manusia biasa (hhehe), kalau Sahrul adl orang yg sentiment, terlalu peka dengan keadaan sekitarnya, punya kemampuan sosialisasi yg paling bagus diantara kita bertiga, yah dan aku sendiri addl orang yg paling nekat dan diantara kami bertiga, aku yg punya pengetahuan dalam bidang kelistrikan dan komputasi (IT).
Kami bertiga adl teman sejak kecil, mulai dari SD sampai SMA kami 1 sekolah, walaupun pas SMA kami beda jurusan, aku IPA 1, Ahmad IPA 2, dan Sahrul IPS. Dan kami bertiga juga merupakan salah satu dari sekian banyak tim peneliti SMA kami, walaupun hanya kami tim yg anggotanya lintas kelas dan jurusan.
Kami bertiga memiliki satu mimpi yang sama, yaitu berangkat ke Jepang untuk mempelajari perkembangan ilmu disana sebelum usia kami mencapai 30 tahun. Dan yah, kalau boleh jujur, itu bukan mimpi kosong! Kami mengusahakan semua yang kami bisa, mulai dari ikut event-event olimpiade, sampai dengan event karaya penelitian ilmiah. Banyak kegagalan yang kami terima, sampai suatu hari, mimpi itu akhirnya bisa terwujud. Kami memenangkan suatu event karya ilmiah nasional dengan hadiah Rp 25 juta. Tentu saja waktu itu, dana segitu itu sudah cukup untu kami bertiga pulang pergi ke Jepang selama 4 hari. Saat itu usia kami bertiga 15 tahun (kami orang paling muda disekolah).
Setelah dana hadiah itu cair, yang kebetulan bertepatan dengan liburan semester, kami pun berencana membeli tiket maskapai penerbangan *****. Diperjalanan (kebetulan kami jalan kaki, toh tidak begitu jauh tempatnya), Sahrul melihat suatu pemandangan yang mencengangkan. 3 orang berbadan besar (sedikit lebih besar dari aku, yg notabene anak paling besar diantara kami bertiga) dan 1 orang ibu-ibu berkerudung beserta banyak anak-anak didekatnya. Kami pun melihat lebih dekat dan mengetahui bahwa mereka sedang berada di depan Yayasan Yatim-Piatu *****. Samar-samar kami bisa mendengar percakapan diantara mereka.
“ayo bayar hutang kalian, majikan kami sudah tidak sabar!” kata orang pertama, yg berkumis dan berkepala botak dengan nada sedikit mengandung kemarahan.
“sabar pak…” kata ibu itu memelas. “kami belum memiliki dana..” tambahnya lagi
“kalau ndak ada dana ya nda usah tinggal! Yayasan ini sudah menunggak 23 juta rupiah! Jika tidak dibayar segera angkat kaki dari sini!” kata orang kedua, badanya hitam dan berkacamata hitam.
Seperti biasa, Sahrul yg terlalu peka langsung muncul (dan mau tidak mau aku dan Ahmad juga ikut) dan berkata, “he… janganlah kau ngomong begitu dengan perempuan.”
Tanpa diduga, Sahrul justru didorong hingga terjatuh, sontak emosiku naik dan nyaris menerjang, tapi Ahmad dengan tenangnya menahanku.
“masalahnya apa? Pake ribut segala.” Kata Ahmad dengan nada santainya.
“kau ndak usah ikut-ikut anak kecil!” kata orang pertama.
Akhirnya, dengan ketenangan Ahmad, kami mendapatkan informasi yang jelas dari ibu tersebut. Bahwasanya bangunan yang mereka tempati sekarang ini belum lunas dan masih memiliki tunggakan. Dan Sahrul pun mengajak rundingan untuk membantu yayasan ini.
Alhasil, kami sepakati bahwa uang hadiah tadi, kami pakai saja untuk bantu yayasan ini, walaupun harus mengorbankan mimpi kami.
Singkat cerita, kami bertiga lulus SMA, dan seperti biasanya, Ahmad mendapat nilai tertinggi diantara kami bertiga, dan tertinggi ke 3 dari satu sekolah. Kami melanjutkan ke jenjang pendidikan kami masing-masing. Aku ke bidang Fisika Listrik, Ahmad ke bidang Kedokteran, dan Sahrul kebidang Ekonomi. Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya, saat usia kami sudah mencapai 20 tahun, kami bertiga bertemu di sebuah konvensi Nasional, dimana ada Event Penelitian juga. Yah, cukup unik, jika biasanya penelitian antar universitas, timnya dibentuk di universitas tersebut, tetapi ini lain. Tim peneliti dibentuk secara acak oleh panitia. Dan ajaibnya, kami bertiga kembali dipertemukan dalam satu tim. Sambil nostalgia kami meneliti. Dan sekitar 2 bulan kemudian setelah lomba, kami diumumkan menjadi juara dengan hadiah belajar ke Jepang selama 2 minggu.
Hebat bukan, mimpi kami bertiga tercapai, dan benar, sebelum usia kami 30 tahun…
“yah… mungkin ini adalah amal dari bantuan kita keyayasan waktu itu.” Kata Sahrul angkat bicara
“waallahualam broh.” Kataku kemudian
“cukup nikmati aja, and tetap bersyukur… urusan itu, biar Tuhan yang urus.” Kata Ahmad dengan bijaknya, sembari menutup pembicaran kami malam itu, di balkon sebuah hotel bintang 5 di Tokyo.


Inti cerita ini adl jangan terlalu pusing dan takut bersedekah. Insyaallah pasti dibalas. Dan tak perlu pula kita mikirin seperti apa balasan Tuhan nanti, tak perlulah pula kita hitung-hitung dengan “matematika Tuhan”. Biarkan urusan “Matematika Tuhan” Tuhan yang urus, tak perlu kita apa-apakan. Siapa bilang 10-1=19?? Itu kan hasil manusia yg mencoba itjihad dengan pikirannya. Bagus memang untuk sebagian orang, dan bisa memotivasi untuk sedekah… tapi toh bagaimana pembalasan sedekah itu datangnya dari Tuhan, kita tidak tahu apa-apa mengenai hal itu…
Urusan Tuhan, biarkan Tuhan yang mengurusnya, kita cukup menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan kepada kita… ^_^v

Story Credit: S.Y.S.P
Ps: jangan pikirin orisinalitasnya, ambil apa yg bisa kalian ambil dari cerita itu amigo… hehe
READ MORE - Sedekah Mimpi

Selasa, 08 Januari 2013

Cerita Penjaga Warnet



ohaiyo... aku pengen crita sedikit amigoz (bukan curhat ya)...

Aku punya seorang teman, dia lulusan MTs di Kediri. Kondisi keluarganya tidak begitu bagus (perekonomian maksudnya), ayahnya bekerja sebagai buruh dan ibunya hanya jaga warung yang juga merupakan warnet,  tapi dia bersikeras untuk melanjutkan sekolahnya ke SMA. Tapi bukan itu yang kita bahas.
Kesehariannya anak ini sangat” kalem… saking kalemnya kadang” kita teman-temannya agak sulit untuk mengajaknya berdiskusi. Akan tetapi kalian mungkin tidak percaya jika melihatnya langsung dirumahnya. Sehari-harinya, sepulang sekolah, yang mana sekolah kami kalo pulang ya paling lama jam 3 sore, dia membantu ibunya jaga warung dan warnet. Dan adapun yang sering bertandang ke warung dan warnet itu kebanyakan preman dan sejenisnya. Biasanya para pengunjung memesan makanan, entah indomie, atau apalah, kemudian nge-net atau main game online. Tidak jarang saat main game, sumpah-serapahnya beuh… itu semua kata” kebun binatang terlontar semua, dan tidak jarang pula ada yang buka situs porno dan sejenisnya. Yah, dan dia membiarkan hal itu… dengan alasan “yang penting mereka betah.” Dia pun gak nanggung” ikut bantu kalo misalkan ada masalah para client dengan koneksi internet atau masalah game, kebetulan dia punya ilmu IT yang melampaui kami anak” kota waktu itu (ga percayakan??!)
Saat menjaga warung dan warnet, dia suka memutar lagu” apapun yang menurutnya enak, entah genre blues, heavy metal, mellow, atau apapun itu. Tetapi menjelang waktu adzan, dia memutar winamp lagu-lagu salawatan atau tilawah Qur’an. Karena frekuensinya sudah sering, jadi para pengunjung sudah terbiasa. Lama-kelamaan, banyak perubahan yang terlampau signifikan yang terjadi. Yah bukan dalam hal pengunjungnya, karena pengunjungnya itu seperti udah langganan, tetapi dalam hal sikap mereka. 

Yap… saat main game, mereka mulai jarang memaki, yang sering terdengar sekarang adalah Astagfirullah, Masya Allah, Allahu Akbar, dan sejenisnya. Pengguna internet yang membuka situs porno pun mulai berkurang. Padahal dia tidak pernah mengajarkan, ataupun melarang ini itu diwarnetnya. Ternyata situasi dan keadaan bisa mengubah sikap dan perilaku orang-orang. Tidak perlu memaksa para pelanggan untuk melakukan hal ini hal itu… alias, disini efek classical Mozart terjadi, walaupun yg dipake bukan music Mozart, tetapi tilawah dan selawatan. Dan dalam hal ini bisa membuktikan bahwa MUSIK dapat mempengaruhi prilaku, menjadi kearah positif tentunya.
Waktu saya tanya “kok gak kau bikin larangan aja?” dia malah bilang “yo… didunia ini gak ada yang suka dilarang, apalagi oleh orang yg perilakunya sama aja…”
Yah perihal sholatpun juga begitu, dia ga pernah ngomong “wee waktunya sholat e, sudah stop dulu.” Tetapi dia langsung minggat ke mushola atau langsung gelar sejadah trus sholat. Yang pasti para pengunjung udah tau bahwasanya kalau dia udah mutar tilawah atau selawatan, berarti waktu sholat nyaris tiba, dan mereka secara tidak sadar (entah karena dikomandoi hati nurani atau bagaimana) langsung tenang.
“lha, nanti kalo ada yang buka situs porno bemana?” tanyaku padanya. Dan dia dengan entengnya jawab, “yah biarin ajah… yang penting mereka betah, kalo sa larang, ntar penghasilan ortuku berkurang dong.”  Kemudian dia sambung lagi, “mungkin mereka jadi nda baku enak, soalnya kita kan sering putar tilawah dan selawatn, jadinya mereka agak sungkan… yang penting bro, jangan sok ngelarang orang dah, bisa jadi to kita juga yang suka sama begituan…” 



well jangan mikirin orisinalitasnya, tapi ambil apa yang kalian dapat dari cerita itu ^_^

story credit to: S.Y.S.P

READ MORE - Cerita Penjaga Warnet

Senin, 31 Desember 2012

Mengubah Dengan Tangan



“Menggantungkan jawaban pada Tuhan adalah keharusan, tapi apakah hal ini mampu menjadi solusi, atau hanya berfungsi sebagai symbol ketidakberdayaan kita?”


Pagi itu, sekitar pukul 10.00 wib, di ruang ball room salah satu hotel berbintang di Jakarta Pusat. Ruangan itu ramai dipenuhi laki-laki dengan baju koko dan perempuan berkerudung. Ternyata orang-orang itu sedang menghadiri pengajian yang baru pertama kali diselenggarakan untuk mereka yg memiliki profesi sebagai pekerja dunia malam. Sebagian besar pesertanya adalah kaum hawa.
Jumlah peserta yang hadir saat itu kira-kira 500-600 orang, ada yang bekerja sebagai pemandu lagu di ditempat seperti ini? Ternyata kehadiran mereka tidak lepas dari upaya seorang pimpinan lembaga penegak hokum diwilayah sawah besar.
Sosok ini memang sedikit unik. Salah satu program pembinaan yg dilakukan dalam masyarakat adalah pembinaan dalam bentuk pengajian. Yah tentu saja tidak sulit bagi pimpinan untuk mengarahkan binaannya (dalam hal ini para pekerja tadi) untuk hadir dalam pengajian, karena jelas dia memiliki kekuasaan. Mungkin, inilah yang disebut dengan “mengubah dengan tangan atau kekuasaan”.
Nah, acara tersebut berisi hiburan bernuansa religious. Dengan suasana humor tapi serius namun juga santai, acara berjalan khidmat dan diakhiri dengan muhasabah yang dibawakan oleh salah satu uztas terkenal negeri ini. Sebagai rasa syukur atas kehadiran peserta dalam acara pengajian tersebut, penyelanggara menghadiahkan door prize berupa 4 buah tiket ibadah umroh ke tanah suci.
Alhamdulillah… sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pekerja dunia malam, yang notabene bekerja dengan dunia abu-abu yang lebih dekat kehitamnya daripada keputihnya, berkesempatan untuk umroh. Dalam dialog antara MC dengan salah seorang peserta yang mendapatkan hadiah ini terekam percakapan berikut:
“mbak… bagaimana perasaannya karena telah mendapatkan hadiah umroh?” yang ditanya pun hanya bisa diam. Dia tidak percaya kalau tiket umroh sudah berada ditangannya. Dia tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca dan tak kuasa menahan air mata. Ternyata Allah SWT memberikan kesempatan kepada seorang hamba yang setiap hari berbuat dosa untuk dating ke tanah suci. Apa pantas dia berangkat kesana? Sekali lagi MC bertanya:
“Maaf mbak… silakan mbak menyampaikan sesuatu.”
Kemudian dia meraih mic dari tangan MC. Dengan suara lirih, dia menyampaikan kalimat: “Alhamdulillah… terimakasih kepada pihak penyelenggara yang sudah memberikan saya kesempatan untuk pergi umroh. Terus terang, saya bukanlah orang yang layak untuk kesana. Masih ada orang yang lebih layak daripada saya. Izinkan saya memberikan hadiah umroh ini kepada kakak saya yang lebih pantas berangkat kesana…”
“lhoh kenapa begitu mbak? Apakah nggak sebaiknya mbak tukarkan hadiah ini dengan uang tunai?” si MC bertanya balik.
“nggak mas… Tuhan sudah memberikan kesempatan kepada kakak saya, yang sudah rindu sekali ingin pergi ke tanah suci. Inilah satu-satunya cara saya untuk bisa berbuat baik kepada kakak saya, dari uang yang 100% halal.”
Dari dialog tersebut,dapat dilihat bahwa dengan ketulusan hati, seseorang yang  “kotor” ternyata berani mengakui “kekotorannya” dan dengan ikhlas memberikan kesempatan kepada orang lain untuk dekat dengan Tuhannya. Sementara dirinya bergelimang dosa, dia masih memberikan kesempatan kapada saudaranya untuk menikmati kedekatan dengan saudaranya untuk menikmati kedekatan dengan Tuhannya.
Apakah setelah pengajian itu selesai, semua itu sirna begitu saja, tersingkirkan oleh rutinitas dunia mereka??? Ternyata 2 hari setelah acara tersebut, sekitar 200 orang datang menghadap ke pimpinan tersebut. Untuk apa? Bukan untuk berdemo, tetapi untuk meminta dicarikan pekerjaan baru diluar dunia malam mereka. Ternyata pengajian ini berbuah kesadaran… walaupun pada akhirnya hanya sebanyak 80 orang yg mendapatkan pekerjaan, selebihnya terpakasa kembali kepekerjaan mereka.

Ternyata… pekerjaan di dunia malam bukanlah satu-satunya tempat bekerja. Mereka ingin bekerja di tempat YANG LEBIH BAIK! Nah sekarang untuk kita yang sudah mapu, mampukah kita membuka alternative dunia kerja??? Atau kita lebih suka menghujat, mencerca, mencaci, atau mengobrak-abrik tempat kerja mereka TANPA MAMPU memberikan alternative pekerjaan yg lebih baik???
Atau malah kita hanya bersikan MASA BODO, dan membiarkan mereka menggantungkan harapan BAHWA TUHAN TIDAK AKAN PERNAH MENELANTARKAN HAMBANYA YG SERIUS MENCARI PEKERJAAN YANG HALAL, tanpa memikirkan pekerjaan halal seperti apa lagi yg bisa mereka kerjakan? Menggantungkan jawaban pada Tuhan adalah keharusan, tapi apakah hal ini mampu menjadi solusi, atau hanya berfungsi sebagai symbol ketidakberdayaan kita? Wallahu’alam

(Manajeman Dosa, Agus Idwar... oleh D'shaga Yoga, dengan pengubahan seperlunya)

READ MORE - Mengubah Dengan Tangan

Jumat, 23 November 2012

Resensi: Kisah Hidup Ali Ibn Abu Thalib

Judul: Kisah Hidup Ali Ibn Abu Thalib
Penulis: Dr. Musthafa Murad
Penerbit: Zaman
Tahun Terbit: 2012
Cetakan: 1 sampai 3

“Siapakah yang mau menjadi pemimpin di tangah situasi yang penuh konflik dan perpecahan? Siapakah yang berani tampil di barisan paing depan ketika orang-orang saling berteriak sambil mengacungkan senjata? Siapakah yang mau mengorbankan nama baik dan kemuliaan demi mencegah kebinasaan umat? Siapakah orang yang tetap menjalai kehidupan dengan penuh keyakinan dan kemuliaan, sedangkan ia telah divonis akan mati terbunuh?”
Yah itulah sepenggalan dari resume buku ini. Oke langsung aja. Buku yang memiliki 260 halaman ini menceritakan kisah hidup salah seorang Khalifah, seorang sahabat yang setia, dan sekaligus suami dari seorang pemimpin wanita ahli surga, yaitu Ali Ibn Abu Thalib. Akan tetapi kisah hidup yang diceritakan disini bukanlah kisah hidup sejak beliau masih kanak-kanak, tetapi kisah kekhalifan beliau.
Dalam masa kekhalifan Ali, banyak konflik yang terjadi, sampai akhirnya pembunuhan terhadap Khalifah Ali oleh Ibn Muljam, Wirdan, dan Syabib yang terjadi pada 21 Ramadan. Dan banyak juga hal hal yang dalam buku ini berupa sejarah kekhalifahan Ali yang disalah pahami oleh kaum syiah sehingga mereka menyimpang.
Yah, jika ingin tahu lebih, bisa pinjam kok (nanti tapi, hahaha). Kita lanjut ke sisi penulisan buku. Buku ini ditulis dengan alur gabungan, dan menggunakan perspektif orang ketiga diluar cerita. Sayangnya bahasa yang digunakan dalam buku ini bukanlah jenis bahasa ringan, dan hanya orang-orang yang benar-benar ingin membacanya, dan mereka yang yakin bisa membacanya, serta sangat-sangat suka membaca bisa membacanya. Buku ini bukan untuk orang yang LEMAH & PENAKUT (dalam hal bacaan, hehehe). Walau begitu, penulis mampu menggambarkan suasana perang dan konflik yang memang banyak terjadi di zaman itu, seperti saat perang Jamal dan Shiffin.
Okeh untuk harga ya… hmm, buku ini merupa 1 dari 4 seri buku kisah hidup sahabat-sahabat Nabi yang menjadi Khalifah, dan kemarin ane patungan dengan temen ane, dikarenakan harga 1 setnya Rp 150000. Tapi gak bakalan nyesel dah, hehehe. Okeh sekian dulu Amigoz….
READ MORE - Resensi: Kisah Hidup Ali Ibn Abu Thalib

Sabtu, 20 Oktober 2012

Resensi : Sandiwara Langit

Okeh Amigo... ini ane dapat lagi sebuah resensi buku dari Majelis Ilmu, lebih tepatnya, resensi ini adalah buah tangan dari Ikha Rifkah... well just cekidot
 
Judul Buku : Sandiwara Langit
Tebal Buku: 200 halaman
Penulis: Al Ustadz Abu Umar Basyier
Penerbit: Shofa Media Publika



Resensi Sederhana menurut musafir kecil
Saya akan mulai dengan pengantar dari penerbit yang bagi saya cukup mewakili untuk menggambarkan buku ini, dan berikutnya akan saya tuliskan beberapa sinopsis singkat dari paragraf-paragraf penting yang terdapat dalam bab-bab buku ini.
Adalah Rizqaan, tokoh utama dalam buku ini, salah satu contoh, dari segelintir umat manusia yang secara apik dianugerahi kekuatan dalam menjalani semua takdirnya, yang teramat berat dan sakit menyayat, namun begit penuh hikmah na harum dan indah memikat.
“Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperolah kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut istrinya.” (Riwayat Ahmad dan Abu dawud)
Ia adalah pemuda shalih, yang berjuang keras menyelamatkan diri dari fitnah membujang, dengan segera menikah dengan segala keterbatasan yang ada. Modal belum ada, pekerjaan pun tak punya. Dan Halimah pemudi yang juga shalihah, putri pak rozaq, seorang pengusaha kaya raya menjadi pilhannya. Meski dari keluarga apa adanya, sebagai muslim idealis, ia tak gentar menemui keluarga Halimah, untuk maju meminang. Terkesan nekat, tetapi begitulah, selama itu adalah kebenaran yang diyakin, pantang bagi rizqaan untuk bersurut langkah.
Keunikan kisah ini, dimulai ketika pak rozaq mau menikahkan mereka, namun dengan satu syarat. Bila dalam sepuluh tahu ia tidak bisa “sukses” (baca: kaya raya menurut barometernya) dan “membahagiakan” Halimah, maka ia harus menceraikannya.
Ah, hidup memang benar-benar penuh hal tak terduga, yang kadang begitu sulit dipercaya. Yang tak jarang memaksa kita untuk menerima realita, bahwa itu memang benar terjadi adanya. Selama sepuluh tahun itu, mereka makin menemukan cinta sejati, cinta hanya karena dan kepada Allah semata. Makin kuat, mengakar dan menghebat, lebih dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Mengokohkan jiwa mereka dan menhadapi segala badai yang menerpa, dari kematian ayah Rizqaan dala kebakaran pabrik, yang juga membangkrutkan usahanya, hingga berujung pada perceraian yang dipaksakan, demi menepati perjanjian. Atau kisah kematian Halimah yang begitu dramatis, sampai kebesaran hati Rizqaan memaafkan ‘dalang’ penyebab kebakaran sekaligus kematian ayahnya.
Yang istimewa, cerita yang tersaji dalam buku ini, adalah pemaparan kembali dari kisah nyata yang-insyaAllah- benar-benar terjadi, untuk bersama kita petik hikmahnya. Makin memikat, saat penyusun kisah, Ustadz kami Abu Umar Basyier Al-maedany, juga menyisipkan dalil-dalil Al Qur’an dan Assunnah untuk makin memperkuat bahasan.
Sangat berbeda dengan buku “sejenis” yang terlanjur meracuni umat, dengan kisah fiktif, sandiwara atau satra penuh rekayasa. “Racun” tersebut semakin kabur dan sulit dikenali, dengan pelabelan Islami yang sangat dipaksakan, entah itu pada novel maupun cerpen murahan dan kawan-kawannya. Bagaimanapun, secara umum Islam tidak pernah mengajarkan dusta untuk mencapai –semulia apapun- tujuannya.
Sinopsis singkat (bagian warna adalah kutipan dari buku)
Pria Muda yang ingin menikah
“Begini ustadz. Usia saya sekarang baru 18 tahun. Namun terus terang, saya sudah ingin sekali menikah. Saya khawatir terjebak dalam perzinaan, bila saya harus menunda menikah lebih lama lagi.” Tanpa sungkan pemuda itu menceritakan keinginannya. Cerita itu sendiri sejatinya sudah memuat pertanyaan. Namun saya ingin tahu lebih jauh. Saya biarkan dia terus bercerita.
“Saya sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. Tapi saya lebih sadar, bahwa tanpa menikah, saat ini saya merasa tidak kuat menahan godaan syahwat. Saya telaten puasa dawud satu tahun ini, untuk menjalankan sunnah Rasul. Gejolak itu memang teredam sebagiannya. Namun yang masih tersisa begitu kuat. Dan saya merasa tersiksa. Apa saya sudah layak menikah ustadz?”
Berikutnya terjadi tanya jawab antara pemuda tersebut dan sang ustadz, seputar pernikahan, kondisi pemuda tersebut yang memang belum mapan, dan tidak mempunyai pekerjaan, dan kemauan dari calon mertuanya untuk menikahkan putrinya dengan pemuda yang sudah mapan. Sang ustadz pun menyarankan agar pemuda tersebut memusyawarahkan hal tersebut dengan orang tua sang calon.
Kesepakatan atau perjudian?
“Calon mertua saya itu ternyata orang yang berpendirian kuat, tapi ambisius. Ia bersedia menikahkan saya dengan putrinya, tapi dengan sebuah tantangan.”
“Tantangan”
“Ya. Ia menantang saya, dengan justru tidak akan membantu kami, bila kami menikah. Ia memang bukan konglomerat ustadz, tapi hidupnya sangat berkecukupan. Setidaknya ia bisa membantu kami bila suatu saat kami hidup kesusahan. Dan ia sesungguhnya tak ingin putrinya hidup serba kekurangan sepanjang hayat. Tapi bila sudah berkeluarga, ia ingin putrinya tidak lagi bergantung kepadanya. Ia menantang bahwa dalam sepuluh tahun saya harus dapat memberi penghidupan yang layak buat putrinya. Kami sudah harus memiliki kehidupan yang berkecukupan. Bila tidak, ia meminta saya menceraikannya. Dan uniknya ia meminta hal itu diucapkan saat akad nikah, sebagai syarat”
Pemuda dan sang ustadz kemudian berdialog tentang hukum adanya syarat seperti itu.
Sosok kedua tokoh utama (dalam 2 bab)
Pada bab berikutnya, digambarkan latar belakang kehidupan pemuda shalih bernama Rizqaan ini dan juga pemudi shalihah bernama Halimah, yang nampaknya mempunyai beberapa kesamaan dan idealisme yang membuat mereka cocok satu sama lain. Rizqaan adalah seorang penuntut ilmu yang gigih yang langka dimana dikala kalangan pemuda yang lainnya larut dalam kehidupan dunia muda dengan beragam fenomenanya. Halimah adalah sosok muslimah yang teguh menjalani fitrahnya menjadi seorang muslimah kaffah dilingkungan keluarga yang jauh dari nilai agama.
Lembar-lembar kehidupan (dalam beberapa bab)
Dan bab-bab selanjutnya adalah torehan tinta dari perjalanan panjang dan melelahkan dari babak-babak kehidupan dua orang muda-mudi dalam mengayuh dayung sebuah biduk kecil bernama rumah tangga yang mereka bangun dengan dasar ketaqwaan kepada Rabb mereka. Bermacam ujian dan cobaan yang digambarkan, namun senantiasa dihadapi oleh mereka dengan suatu sikap yang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Juga sampai pada masa-masa cobaan yang mereka sudah bukan dalam bentuk kesulitan namun justru suatu nikmat yang bisa saja menjerumuskan mereka ke jurang kenistaan.
Rizqaan memulai perjuangannya memberi nafkah kepada istrinya dengan mencoba berdagang menjajakan roti dari suatu pabrik dari sedikit modal yang dimilikinya. Kedua insan ini memulai hidup dalam keprihatinan, namun mereka tetap sabar dan yakin akan ketentuan yang diberikan Allah kepada mereka. Dari mulai diceritakan saat-saat mereka hanya makan nasi putih dengan garam dan bawang goreng, dan bermacam cobaan lainnya. Berkat kegigihan dan kejujuran Rizqaan dalam berdagang, juga kesabaran Halimah istrinya untuk menerima keadaan mereka dan keuletannya me-manage keuangan rumah tangga. Pelan tapi pasti kehidupan keduanya berangsur membaik. Rizqaan menjadi penjual roti keliling yang sukses, berkat kejujurannya dan teguhnya memegang prinsip agamanya untuk tidak berdekatan dengan segala hal yang berbau haram maupun syubhat yang melingkupi bidang pekerjaannya. Rizqaan adalah tipe pekerja keras, namun ia bukanlah hamba dunia. Ia bekerja keras untuk mendapatkan dunia, namun ia berniat menundukkan dunia itu agar menjadi ladang akhirat baginya. Kehidupan ruhaninya yang dulu pun tak menjadi rusak dikarenakan kesibukannya mencari harta, bahkan Rizqaan yang hanya lulusan SMA ini telah menjelma menjadi sosok yang layak menyandang gelar Al-Ustadz.
Kebahagiaan keduanya lengkap tatkala mereka mendapatkan keturunan dari Allah Ta’ala. Bisnis Rizqaan semakin maju, hingga kini Rizqaan sudah bukan lagi penjaja roti keliling tapi sudah menjadi seorang pengusaha roti yang mempekerjakan beberapa karyawan. Omzetnya pun bukan lagi puluhan ribu seperti ketika awal-awal ia merintis usahanya, namun sudah menjadi puluhan juta. Kerikil-kerikil tajam sudah barang tentu menjadi selingan dalam kehidupannya.
Gemuruh prahara
Pada bulan keenam tahun kesepuluh pernikahan mereka adalh puncak kebahagiaan yang mereka rasakan, tidak ada lagi kesusahan dalam hidup mereka. Rizqaan sudah menjadi seorang pengusaha sukses. Rumah mereka bukanlah rumah petak kontrakan ala kadarnya, namun sudah menjadi rumah mewah dengan pabrik roti di belakangnya. Akhirnya memasuki bulan kesebelas kehidupan yang mereka jalani terasa begitu lambat ketika mereka berusaha untuk mempertahankan kehidupan mereka dan menunggu hingga saat tiba bagi Rizqaan untuk membuktikan janjinya kepada mertuanya. Hingga suatu malam tiba, dimana malam itu pada bulan kedua belas dan hari “H” tinggal hanya dua hari lagi terjadi musibah besar yang memporak-porandakan kehidupan yang selama ini mereka bagun dengan susah payah. Kebakaran melanda pabrik dan rumah mereka, hingga menjadikan ayah Rizqaan meninggal dunia. Belakangan di akhir cerita diceritakan, bahwa kebakaran tersebut merupakan ulah dari saudara jahat Halimah yang bernama Asyraf agar ayahnya memenangkan perjanjian dan Halimah menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya.
Badai Susulan
Baru beberapa dua hari berselang dari musibah kebakaran tersebut, musibah lain datang menyapa. Hari itu adalah hari final dari perjanjian yang diucapkan Rizqaan saat akad nikah sepuluh tahun yang lalu. Sang mertua (Bapak Halimah) dengan kejamnya menagih janji dari Rizqaan dan menyatakan bahwa Rizqaan tidak dapat memenuhi janjinya, karena saat ini Rizqaan telah menjadi seorang yang bangkrut. Akhirnya dalam pergulatan batin yang hebat sebagai seorang muslim dan muslimah yang menaati Allah dan Rasulnya. Mau tak mau mereka harus menepati janji mereka.
“Halimah istriku……..” ujar Rizqaan, dengan napas tercekat.
“Ya, abuya. Kakanda. Suamiku.” Balas Halimah, tak kalah pedihnya.
“Dihadapan Allah. Atas Dasar ketaatan kita kepada-Nya. Dengan harapan Allah akan memperjumpakan kita di Surga kelak dalam sejuta keindahan yang melebihi segala yang pernah kita rasakan berdua. Atas dasar cinta kasih kita yang suci. Atas dasar kepedihan hati yang mendalam, yang hanya Allah yang mengatahuinya: SAYA MENALAQMU ADINDA.”
Meski tabah, tapi mau tidak mau tangisan Halimah meledak, tak terbendung lagi. Ia menagis terisak-isak. Ia tak pernah membayangkan, bahwa kesetiaannya kepada suami akan berujung pada kepedihan seperti ini. Ya Allah Ya Rabbi. Kami yakin, berkah sesungguhnya adalah pada cinta-Mu kepada kami. Kami merindukan cinta-Mu. Hati Rizqaan dan Halimah berbisik lirih.
Lembaran-lembaran baru kehidupan Rizqaan, Halimah dan Nabhaan anak mereka
Pada bab-bab selanjutnya dikisahkan bagaimana Rizqaan merintis kembali usahanya yang telah hancur dengan sekuat tenaga dan ketabahannya menghadapi cobaan. Juga dikisahkan bagaimana kehidupan Halimah selanjutnya selepas menyandang predikat sebagai seorang janda yang sangat tidak dia harapkan. Tak lupa bagaimana rintihan putra mereka Nabhaan yang saat itu berusia delapan tahun ketika menanyakan kenapa kehidupannya tidak bisa bahagia seperti dulu lagi. Sampai pada suatu saat, ketika ada seorang duda kaya raya anak seorang pejabat yang mengutarakan keinginan untuk menikahi Halimah. Dikisahkan inilah sebab mengapa Asyraf, abang Halimah, melakukan perbuatan keji merusak kehidupan rumah tangga Rizqaan dan Halimah. Namun entah apa yang dibicarakan oleh Halimah, duda tersebut dan ayahnya, ketika mereka berniat melamar Halimah, sehingga menjadikan mererka mengurungkan niat untuk melamarnya. Saat diceraikan oleh Rizqaan, halimah sedang mengandung anak kedua mereka, dan saat menjadi janda kondisi kesehatan Halimah menjadi memburuk dan ternya Halimah telah divonis menderita leukimia (kanker darah) dengan diagnosa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Hari-hari berlalu sampai suatu ketika Ayah Halimah menyadari bahwa Halimah tidak akan bisa menikah dengan lelaki lain selain Rizqaan.
Ending yang mengharukan
Suatu ketika Halimah dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumah Rizqaan yang kini telah mapan kembali.
**************************************
“Kami datang, untuk sebuah keperluan yang mungkin tak pernah kamu duga ananda. Setelah perdebatan panjang, dan banyak kisah-kisah di sekitarnya, kami berniat, akan menikahkanmu kembali dengan putri kami, Halimah…..”
“A….pa…? menikahkanku kembali dengan Halimah” Rizqaan tergagap. Ia tak mampu berbicara. Ada kelebatan sinar menyapu otaknya. Sehingga ia nyaris hanya bisa terpaku karena kegembiraan yang tidak terkira.
*************************************
“Abuya….”
“Maaf, aku belum menjadi suamimu lagi….” sela Rizqaan
“Izinkan aku tetap memanggilmu Abuya. Aku tak terbiasa dengan panggilan lain.”
“Baiklah. Ada apa Adinda?”
“Abuya. Apakah abuya siap menikahiku lagi?”
“Adinda Halimah, kenapa aku tidak siap? Dari dulu aku tak pernah berniat menceraikanmu. Aku senantiasa mencintaimu. Hanya karena kita bukan suami istri lagi, aku selalu menindih rasa cintaku itu sekuat mungkin. Tapi bila diberi kesempatan menikahimu lagi, aku tak mungkin menolak.”
“Meskipun misalnya aku memiliki kekurangan yang tidak kumiliki sebelumnya?”
“Kekurangan apa Adinda?”
“Jawab dulu pertanyaanku.”
“Ya. Aku akan menikahimu dengan segala kekuranganmu yang ada. Selama itu bukanlah cacat dalam agamamu yang tidak dapat diperbaiki.” Ujar Rizqaan tegas.
“Abuya. Aku ingin Abuya menikahiku. Karena aku ingin mati dalam keridhaan seorang suami shalih…..” Halimah berhenti sejenak. Ada keharuan yang membuatnya tercekat, sehingga sulit bicara.
“Abuya bisa segera menikahiku. Tapi aku tak tahu, apakah keinginan itu akan tetap ada, setelah Abuya mengetahui kekuranganku sekarang. Abuya, aku baru saja satu minggu yang lalu melakukan check up. Dan aku terbukti mengidap leukimia…” sampai disitu, Halimah terisak. Ia tak mapu melanjutkan bicaranya.
Rizqaan merasa tersentak. Tapi demi Allah, ia tak sedikit pun merasa sedih. Kegembiraan bisa kembali bersama istrinya, tak bisa terkalahkan oleh kesedihan atas kondisi Halimah tersebut.
“Dokter mengklain bahwa usiaku tak akan lebih dari 3-4 bulan saja….” kembali Halimah menangis.
“Aku tidak peduli. Umur ada di tangan Allah. Manusia hanya mapu mengira-ngira. Nyawaku, bisa saja lebih dahulu terenggut daripada nyawamu. Aku akan segera menikahimu. Biarlah Allah yang menentukan akhir perjalanan hidup kita. Bagiku, hidup atau mati bersamamu, dalam “kecintaan” Allah adalah sebuah kenyataan yang paling penuh berkah”. Rizqaan berbicara dengan kayakinan kokoh membelit jiwanya.
*******************************************
Rizqaan dan Halimah kembali hidup berbahagia. Mereka kembali mengulang masa-masa penuh keceriaan di antara mereka. Satu bulan kemudian, anak mereka yang kedua lahir. Ia seorang bayi perempuan yang cantik. Mirip ibunya, Halimah. Bayi itu dilahirkan dengan cara normal. Bayi maupun ibunya sama-sama selamat.
*******************************************
Kebahagiaan mereka berlanjut, sampai suatu ketika datang berita bahwa abang Halimah, Asyraf menjadi buronan polisi dikarenakan kasus narkoba, dan juga berita tentang dalang penyebab kebakaran yang menewaskan ayah Rizqaan. Karuan berita itu membuat kegembiraan mereka semua hilang. Ayah Halimah yang kini menjelma menjadi orang baik hati marah besar kepada anaknya tersebut. Dan Halimah seketika jatuh pingsan dan sakit.
******************************************
Sore menjelang Maghrib, Halimah terbangun. Disampingnya duduk Rizqaan. Sementara di depannya, Ayah dan ibunya duduk diatas kursi plastik. Mereka semua cemas menantikan kesadarannya. Seorang dokter perempuan –yang sengaja diundang ke rumah- mendekatinya. Memeriksa nadinya, lalu memberikan suntikan di bagian lengannya.
“A…..Abuya….” Halimah berkata lirih.
“Aku disini Adinda”
“Alhamdulillah. Apakah sudah maghrib? “tanya Halimah.
“Belum. Masih kira-kira sepuluh menit lagi.”
“Abuya…”sapa Halimah pelan.
“Ada apa Adinda.”
“Apakah Abuya masih mencintaiku?”
“Tentu Adinda. Aku selalu mencintaimu karena Allah.”
“Aku juga mencintaimu karena Allah, Abuya.” Halimah diam sejenak lalu ia bertanya lirih.
“Apakah engkau akan tetap bersabar atas segala yang menimpa kita, Abuya?”
“Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar, Adinda….”
“Abuya. Jawablah pertanyaanku.”
“Ya. Apa Adinda?”
“Apakah engkau meridhaiku sebagai Istri?”
“Sudah tentu Adinda. Suami mana pun akan meridhai istri seshaliha dirimu. Setaat dirimu. Sepatuh dirimu. Kamu bukanlah wanita yang tak memiliki kekurangan atau kesalahan. Tapi dengan keshalihanmu, ketaatanmu, kepatuhanmu, aku senantiasa ridha terhadapmu…..”
“Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shaalihaat. Aku ingin termasuk di antara wanita yang disebutkan dalam Hadits.”
“Bagaimana itu Adinda?”
أًَيُّمَا امْرَ أًَ ة مَا تَتْ وَ زَ جُهَا عَنْهَا رَا ض د خَلَت الْجَنَّهَ
“Wanita mana pun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk surga.”
Halimah mengucapkan Hadits itu sedemikian fasihnya. Arab, berikut terjemahannya.
“Semua wanita shalihah, mengidamkan hal itu Adinda, dengan izin Allah, Adinda akan termasuk di dalamnya.”
“Allahumma amien. Abuya, sekarang aku puas. Apaun yang terjadi atas diriku, kini aku sudah kembali menjadi istrimu. Aku telah berdo’a setiap malam, agar aku bisa berdampingan dengan suami yang shalih. Sehingga kalaupun mati, aku akan mati dengan keridhaan Allah kemudian dengan keridhaan suamiku…..” Halimah berhenti sejenak.
“Abuya, betapa indahnya bila Allah betul-betul mencintai kita. Aku ingin dengan cinta-Nya, kita berdua menuai bahagia seutuhnya. Kebahagiaan yang bukan Cuma di dunia, tapi juga di akhirat.”
Halimah menghela nafasnya yang terasa begitu berat.
“Abuya bila aku sudah tiada, berjanjilah untuk senantiasa berjalan di atas ajaran Allah. Didiklah anak kita, dan berbaktilah kepada orang tua….”
“Jangan berkata begitu Adinda….” Rizqaan menyela.
Halimah memberikan isyarat dengan tangannya, agar Rizqaan tidak bertanya apa-apa.
“Berjanjilah Abuya…..”
“Aku berjanji Adinda. Tanpa berjanji pun, ketaatan kepada Allah adalah janji seluruh manusia saat mereka berada dalam perut ibu mereka….” ujar Rizqaan.
“Alhamdulillah…….”
“Abuya….tabir itu mulai terbuka…..Aku mencintaimu, Abuya. Abuya tak perlu meragukan cintaku. Tapi aku lebih merindukan Allah. Bila ini kesempatanku bersua dengan-Nya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya sedikit pun…….”
“Adinda….”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Adinda….”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
Suara tahlil itu semakin lembut dan syahdu dari mulut Halimah. Terus menerus. Semakin lama, semakin lemah. Namun semakin syahdu. Sampai akhirnya suara terakhir terdengar, masih sama, “Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
Usai berakhirnya suara itu, nafas Halimah terhenti. Di tengah keheningan kamar di rumah mereka, yang masih tercium bau catnya. Karena belum lama dibangun Halimah mengehembuskan nafas terakhirnya. Sang ibu menjerit. Sang bapak menangis. Rizqaan juga tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba mengalir deras. Pernikahannya dengan Halimah yang merupakan masa kembalinya kebahagiaannya yang beberapa saat nyaris lenyap, kini nyaris terenggut kembali. Tapi kepergian Halimah dengan kondisi yang menyemburatkan aurat Surga, membuat hatinya terasa nyaman. Ia bersedih, tapi juga berbangga dengan istrinya. Kesedihannya pupus perlahan karena rasa bangga bercampur rasa iri yang menyejukkan jiwanya. Betapa berbahagia Halimah.
Tak lama kemudian, adzan maghrib terdengar. Mereka mendengarkannya dengan khusyu’. Saat lantunan adzan berhenti, Ayah Halimah mendekati Rizqaan. Ia manatap menantunya yang sekian lama ia kecewakan. Sekian lama ia perangkap dalam kesukaran dan penderitaan. Pria yang –dengan seizin Allah- telah mengubah wujud putrinya, sehingga menjelma menjadi wanita shalihah begitu setia pada kebenaran. Ia menatap pemuda itu. Air matanya menetes tak terbendung. Penyesalan membuncah sehingga nyaris membakar otak. Ia nyaris bisu dalam suasana hati yang kuyup penyesalan.
“Duhai, seandainya aku masih memilki putri yang lain. Pasti aku akan menikahkannya denganmu, ananda.” Ujar ayah Halimah kepada Rizqaan.
“Halimah sudah cukup bagiku pak. Nikahkanlah aku kembali dengan putrimu itu pak.”
“Aku sudah melakukannya dua kali ananda…..”
“Cobalah untuk yang ketiga kalinya pak…”ujar Rizqaan lirih.
“Itu bukan lagi hakku ananda. Biarlah Allah yang akan menikahkanmu dengannya di Surga kelak. Relakanlah kepergiannya saat ini. Semua kita toh pasti akan mati juga. Gapailah Surga dengan amal ibadahmu. Dengan ketulusan hatimu. Hanya dengan itu Allah akan berkenan mempertemukanmu kembali dengannya…..”
Rizqaan tersenyum.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي



Hai jiwa yang tenang 
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. 
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, 
masuklah ke dalam syurga-Ku. 

****************************************

Buku ini saya baca ba’da zhuhur dan selesai menamatkan lembar demi lembar halaman penuh hikmahnya selepas ashar. Sungguh saya berarti telah membohongi diri sendiri bila tidak menitikkan air mata terhanyut dalam episode perjalanan kehidupan anak manusia yang subhanallah sangat layak dijadikan bahan pelajaran ini.
Wahai saudara-saudariku seiman, saya tidak akan mengingkari bahwa novel, cerpen, dan cerita berlabel Islami lainnya dapat diambil hikmahnya. Bahkan menurut kalian hal itu bisa dijadikan sarana dakwah kepada orang-orang yang belum mengenal Islam dengan sekelumit kaidah-kaidah syar’iyah di dalamnya. Tidak wahai saudara-saudariku, saya juga pernah terlarut di dalam menikmati beragam karya sastra tersebut, bahkan dari pengarang kafir dan atheis sekalipun saya pernah menikmatinya. Tetapi sekali lagi, tujuan tidaklah menghalalkan cara, dan kebaikan tidak akan diperoleh dengan jalan yang bathil. Maafkan saya, dalam hal ini saya tidak sependapat dengan kalian, karena hal ini telah jelas seperti layaknya sinar mentari yang terang benderang yang menerangi suatu jalan yang lurus.
Resensi selesai dibuat selepas Isya’ 22 Rajab 1429 H
READ MORE - Resensi : Sandiwara Langit

Anunnaki

Anunnaki adalah salah sekelompok Dewa dari bangsa Sumeria, Akkadia, Asyiria dan  Babylonia. Annunaki muncul di dalam mitos penciptaan bangsa  Babylonia, Enuma Elish, di dalamnya juga disebutkan mengenai Marduk. Setelah penciptaan manusia, Marduk membagi Anunnaki dan menugaskan mereka di tempat-tempat yang telah ditentukan, tiga ratus di surga, dan tiga ratus di bumi. Dalam hal ini bisa kita lihat bahwa Anunnaki sebenarnya adalah sekelompok Dewa yang jumlahnya sekitar 600 Dewa, sementara dalam berbagai kebudayaan dan kepercayaan terhada Dewa-Dewi kita ketahui bahwa mereka memiliki satu nama untuk satu Dewa atau banyak nama untuk satu Dewa. Ini adalah sebuah hal yang unik dengan adanya satu sebutan untuk 600 Dewa yaitu Anunnaki.

Apakah mungkin Dewa-dewa yang disebut sebagai Anunnaki ini adalah sekelompok makhluk dengan kecerdasan dan teknologi tinggi ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya kembali meninjau sebuah peristiwa yang tidak terlalu jauh masanya. Pada saat perang dunia ke-dua, penduduk asli Papua New Guinea (Papua Nugini) dikejutkan dengan suara pesawat yang kemudian mendarat di sebuah lahan kosong, dari dalamnya muncul orang-orang berkulit putih yang belum pernah mereka temui sebelumnya, mereka terkejut melihat penampilan fisik mereka yang benar-benar berbeda dengan mereka dan turun dari atas "burung besi". Dari dalam pesawat orang-orang pendatang ini menurunkan supply bahan makanan untuk para penduduk lokal sebagai bantuan logistik atas pecahnya perang.

Mungkin mereka berpikir bahwa orang-orang berpenampilan aneh dan menaiki "burung besi" ini adalah Dewa yang datang untuk memberi mereka berkah berupa makanan dan obat-obatan. Tetapi beberapa waktu kemudian perang sudah usai dan orang-orang pendatang ini meninggalkan Papua New Guinea. Penduduk lokal melihat mereka menaiki "burung besi" kemudian terbang ke langit. Karena lama para "Dewa" ini tidak kembali maka penduduk lokal pun membuat tiruan dari pesawat atau "burung besi" yang ditunggangi oleh orang-orang maju tersebut dengan harapan bila mereka melihat tiruan pesawat itu, maka orang-orang yang mereka anggap sebagai "Dewa" itu akan datang lagi dan memberi mereka makanan.
anunnaki.jpg
patung Anunnaki

Hal yang sama bisa saja terjadi, saat orang-orang di masa lalu melihat makhluk dengan bentuk dan penampilan aneh datang menggunakan sebuah "tunggangan" yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, berbagi pengetahuan dan makanan dan kemudian meninggalkan mereka ketika misi mereka sudah selesai, atau gagal, dan kemudian orang-orang kuno ini membangun patung dengan bentuk menyerupai mereka, dengan harapan supaya "Dewa-dewa" ini datang lagi.

Hubungan Anunnaki dan kebudayaan bangsa lain

Pada beberapa relief peninggalan bangsa Sumeria ada beberapa yang cukup mengejutkan, salah satunya adalah relief di bawah ini :
anunnaki-1.jpg

Pada relief pada bagian atas terdapat Ahura Mazda, sang Dewa penemu kepercayaan Zoroastrianisme bangsa Persia. Pada relief tersebut terlihat seakan-akan Ahura Mazda melindungi pohon kehidupan (tree of life bangsa Sumeria) dan empat orang yang disekitarnya adalah para Anunnaki. Dari sini kemudian muncul lagi pertanyaan :

Siapa sebenarnya Ahura Mazda dewa penemu kepercayaan Zoroastrianisme bangsa Persia yang memerintahkan pengikutnya untuk membangun kota pengungsian bawah tanah Derinkuyu di Turki (dulu Persia) dan apa hubungannya dengan Anunnaki, dewa bangsa Sumeria, Akkadia, Asyiria dan  Babylonia?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya telusuri lagi Anunnaki dari awal.

Menurut mitos bangsa Babylonia, Anunnaki adalah anak-anak dari dewa-dewi bersaudara yaitu Anu dan Ki (Ea), yang merupakan anak dari Anshar dan Kishar (Langit dan Bumi) dimana mereka adalah anak dari Lahamu dan Lahmu, nama yang diberikan untuk penjaga gerbang Abzu, sebuah kuil di Eridu (sebuah kota Sumeria kuna, yang saat ini bernama Tell Abu Shahrain di propinsi Dhi Qar Governorate, Irak), sebuah tempat yang dipercaya sebagai lokasi terjadinya penciptaan. Lahamu dan Lahmu sendiri adalah anak dari Tiamat (Dewi Laut) dan Abzu (Dewa Air).

asshurz.jpg
Anshar

Gambar di bagian atas yang mirip dengan Ahura Mazda (Dewa Cahaya dan Kebijaksanaan yang terkadang juga disebut sebagai Dewa Langit bangsa Persia) adalah Anshar (atau Anshur, Ashur, Asshur) yang juga merupakan dewa langit bangsa Babylonia, Sumeria, Akkadia dan Asyiria.

Tiamat sendiri dalam mitos itu digambarkan sebagai Dewi kehancuran, dalam budaya lain disebut sebagai Leviathan, yang ingin menghancurkan dunia yang telah diciptakan oleh Marduk, dan dikisahkan bahwa Anshar memimpin para dewa untuk bertempur melawan Tiamat.

Jika memang ada fakta di balik mitos dari bangsa-bangsa yang berbeda itu, bisa diambil kesimpulan bahwa Ahura Mazda dan Anshar jika dilihat dari penggambarannya oleh kebudayaan berbeda, berasal dari satu kelompok yang sama, yaitu mereka yang mempunyai kebudayaan maju yang tersebar di beberapa tempat di sekitar daerah tersebut sehingga melahirkan sebuah mitos atau legenda mengenai orang-orang hebat ini yang dirangkum dalam sebuah mitologi, saling menghubungkan kelompok-kelompot tersebut dalam sebuah garis keturunan dewa-dewi dan dipuja dalam kepercayaan mereka. Adanya pertempuran yang dipimpin oleh Anshar melawan Tiamat sama persis dengan mitos bangsa Persia yang juga tertulis dalam teks-teks suci mereka sebagai pertempuran antara Ahura Mazda dengan Angra Meinyu.

tablet-bearing-the-text-o.jpg
Salah satu tablet Enuma Elish

Asal mitos Anunnaki

Banyak orang percaya bahwa anunnaki berasal dari mitos bangsa Sumeria karena sempat disebutkan dalam sebuah kisah penciptaan bangsa Sumeria, tetapi kisah yang lebih lengkap mengenai Anunnaki ini justru berasal dari Babylonia, sehingga besar kemungkinan bahwa mitos mengenai Anunnaki ini berasal dari Babylonia dan kemudia tersebar kepada bangsa Sumeria, Asyiria dan Akkadia, atau bisa jadi para Anunnaki ini juga mendatangi tempat-tempat tersebut dan mulai membangun kepercayaan mengenai dewa-dewi di sana yang sama seperti kepercayaan bangsa Babylonia.
READ MORE - Anunnaki

Need a Translate?

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Popular Posts